Return to site

Part 3: LMS Brightspace Indonesia Dapat Membantu Memotivasi & Meningkatkan Keterlibatan Siswa!

· Prinsip Pendidikan

Pada artikel kami kali ini, kami akan melanjutkan eksplorasi kami tentang Seven Principles For Good Practice in Undergraduate Education” dari Chickering dan Gamson dapat dicapai dan didukung melalui penggunaan sistem manajemen pembelajaran (LMS) Brightspace Indonesia. Jika Anda melewatkan artikel sebelumnya dapat mengakses seluruh rangkaian artikel mulai dari Prinsip 1 hingga Prinsip 3 melalui halaman ini

Prinsip 3: Mendorong pembelajaran aktif

Pikirkan kembali beberapa pengalaman Anda yang paling tidak menarik sebagai siswa. Kemungkinan besar kelas-kelas yang membuat Anda merasa tidak termotivasi adalah kelas-kelas yang mengandalkan apa yang kami sebut “3 M: Membaca, Mengingat dan Mengulang”. Aktivitas tersebut merupakan aktivitas yang tak ada habisnya di sekolah. Hal ini pun dapat membuat frustrasi dan berusaha untuk keluar dari kondisi ini. Seperti, membaca artikel atau bab materi pada buku, mengingat poin-poin penting berulang kali dalam ingatan jangka pendek Anda, kemudian mengulanginya melalui ujian. Sayangnya, ada juga poin keempat yang cukup umum terjadi yaitu, “lupa”. Meskipun pelajar telah melakukan 3 hal sebelumnya, mereka bisa saja akan langsung melupakan semua informasi itu setelah ujian selesai atau bahkan sebelum ujian itu tiba.

Menurut Chickering dan Gamson,

"Belajar bukanlah olahraga tontonan."

Dengan kata lain, pembelajaran pasif (sering disebut pembelajaran tradisional) bukanlah cara yang paling efektif bagi siapa pun untuk mempertahankan pengetahuan. Siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang materi kursus ketika diberi kesempatan untuk merefleksikan, menarik koneksi, mendiskusikan apa yang mereka pelajari dan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

Giat belajar

Felder dan Brent mendefinisikan pembelajaran aktif sebagai "kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran singkat atau kegiatan kelompok kecil yang diminta untuk dilakukan oleh semua siswa di kelas, bergantian dengan interval yang dipimpin oleh pengajar di mana tanggapan siswa diproses dan informasi baru disajikan". Daripada mengharapkan siswa hanya membaca artikel, menonton video dan mendengarkan guru menyampaikan materi (meskipun, tentu saja, ada waktu dan tempat untuk semua ini!), Pembelajaran aktif mempromosikan tugas-tugas seperti diskusi/debat kritis, pengalaman pembelajaran, refleksi dan interpretasi secara personal, dan penciptaan / produksi karya baru. Jika kita mengacu pada Taksonomi Bloom (2001), kita dapat membuat konsep tujuan untuk mendorong siswa melewati ingatan dan pemahaman menuju penerapan, analisis, evaluasi dan penciptaan.

Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana pembelajaran online bisa dianggap "aktif" ketika secara kasat mata pembelajaran itu terjadi hanya di belakang layar. Tapi ingat: LMS tidak hanya menjadi fasilitas atau platform yang hanya bisa digunakan sebagai penyimpanan konten! Tetapi, platform LMS Brightspace Indonesia akan memberi Anda pengalaman yang fleksibel dan dapat diakses dari perangkat apa pun, serta berbagai macam fitur yang tersemat pada platform untuk penyampaian materi yang lebih bak untuk pelajar dan pengajar.

Penilaian otentik

Salah satu cara untuk mendorong pembelajaran aktif secara online adalah dengan memasukkan aktivitas otentik dan penilaian yang meniru cara siswa memanfaatkan materi pelajaran di dunia nyata. Sistem LMS Akubelajar dilengkapi dengan opsi untuk tugas "pengamatan terhadap pelajar secara langsung", yang akan memungkinkan Anda untuk menggabungkan aktivitas pembelajaran situasional seperti presentasi, debat lisan (analisis), magang, dan eksperimen lab sebagai tugas yang diperlukan dalam metode yang kami sebut blended room.

Sedangkan untuk pembelajaran yang sepenuhnya online, manfaatkan fungsi Video Note dari sistem LMS Brightspace Indonesia dengan menyiapkan pengiriman teks untuk tugas siswa Anda berikutnya, di mana mereka dapat dengan mudah merekam live video mereka sendiri hingga berdurasi tiga menit. Baik melalui ponsel atau webcam yang mereka rekam. Mereka juga dapat membuat entri jurnal video tentang teori yang lebih kompleks seperti pada pelajaran matematika, sains, menafsirkan adegan dari drama atau novel (sastra, drama), atau menposisikan mereka dalam pembelajaran untuk debat akademis (sejarah, filsafat).

Jika ide tentang integrasi video ini benar-benar menarik bagi Anda, cobalah mengadakan kuliah online dengan memulai untuk menjalankan kelas virtual yang lebih baik lagi, atau Anda juga dapat menjalankan metode pembelajaran “flipped classroom” di mana setiap siswa mengambil giliran menjadi pemberi materi dan harus mengajarkan konsep kepada pelajar lainnya baik secara individual maupun secara berkelompok. Pada sistem LMS kami juga memberikan opsi untuk mengaktifkan penilaian dan umpan balik dari pelajar lainnya maupun pengajar yang akan bertindak untuk mengevaluasi hasil penyampaian yang dilakukan oleh pelajar tersebut.

Ilustrasi (c) Unsplash.com